BantenPandeglang

Sanimas Di Cikeusik Timbulkan Pencemaran “KSM Cuek Bebek”

671views

Pandeglang|SOROTDESA.COM- Aneh tapi nyata program Sanimas (sanitasi masyarakat) tahun anggaran 2019 lalu yang dilaksanakan di Desa Leuwibalang Kecamatan Cikeusik Kabupaten Pandeglang menuai protes masyarakat di wilayah tersebut. Pasalnya selain kegiatan yang diduga asal-asalan, serta kurangnya transparansi, selain menimbulkan polusi dan alhasil menuai protes masyarakat setempat.

Sangat di sayangkan ketika program yang di gulirkan oleh pemerintah, yang seharusnya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat namun hal itu justru sebaliknya. Adanya program sanitasi masyarakat (SANIMAS) pada tahun anggaran 2019 lalu. Dengan lokasi di Desa Leuwibalang Kecamatan Cikeusik Kabupaten Pandeglang. Bagaimana kesehatan masyarakat bisa terjamin, karena sangatlah jelas bahwa itu adalah kotoran yang merupakan sumber berbagai macam penyakit, ungkap Bule Humaedi pada sorotdesa.com (20/05) selaku ketua dari GERHAMTARA (gerakan hak asasi manusia nusantara) Dewan Pimpinan Wilayah Propinsi Banten.

Pemerintah harus tanggap akan hal itu, karena jika pengawasan lemah dan bahkan tidak menutup kemungkinan program itu menjadi ajang Bancakan KKN (korupsi kolusi dan nepotisme), antara oknum pemerintah dan oknum masyarakat. Dan dalam peristiwa ini seakan terciptanya edukasi KKN dari pihak Pemerintah, dikarenakan lemahnya pengawasan dari pihak yang bertanggung jawab dalam program itu, dan tidak menutup kemungkinan pula akan terciptanya kerusakan moral dari pihak intelek yang menjadi oknum, baik dari pemerintahan yang terbawah ataupun para oknum aktivis yang disinyalir terlibat dan bahkan melibatkan diri untuk memback-up program itu guna meraup keuntungan pribadi tanpa mengindahkan kepentingan masyarakat banyak. Dengan adanya peristiwa ini diharapkan ke depan agar di persiapkan lebih baik untuk sebuah program yang bergulir, agar semua pihak yang terlibat dalam kegiatan itu turut serta bertanggung jawab atas hak penerima manfaat yaitu masyarakat, tandas Bule.

Adalah Abas (63) warga Kp Sawah Desa Leuwibalang Kecamatan Cikeusik Kab.Pandeglang. Menuturkan pada Sorotdesa.com di kediamannya baru-baru ini, bahwa dengan adanya program tersebut dirinya mengucapkan terima kasih pada pemerintah, namun sangat di sayangkan dalam pelaksanaan program tersebut di anggap tidak transparan dari para pelaksananya (KSM) Kelompok Swadaya Masyarakat. Tentang lahan yang di gunakan di program tersebut di lahan miliknya, dan “untuk lahan itu harus hibah” ucap Abas menirukan ucapan kepala Desa.

Akan tetapi pihak pelaksana tersebut menjanjikan penggantian lahan tersebut akan di bayar, sayangnya belum ada penggantian atas lahan tersebut sampai saat ini, tanpa menjelaskan berapa kisaran nilai uang penggantian atas lah tersebut,” ucap Abas.

Kemudian sampai saat ini dirinya tidak pernah menandatangani kesepakatan hibah maupun untuk penggunaan lahan tersebut walaupun pekerjaan program tersebut mungkin di anggap selesai. Selain itu untuk kloset pun para masyarakat harus membeli sendiri, dan pelaksana menyarankan masyarakat untuk ikut kerja dalam kegiatan itu. “Alhamdulilah sehari di gaji mulai dari tiga puluh ribu sampai dengan enam puluh ribu, daripada sepuluh ribu” terang Abas

Kemudian Di tambahkannya bahwa dampak dari program tersebut yang sekarang sedang topik trending di lingkungannya, adalah ketika dari pipa pembuangan terahir yang berjarak kurang lebih 10 meter dari septitank (tabung Ipal) yang di salurkan ke bawah gorong-gorong. Akibatnya menimbulkan polusi udara yang sangat mengganggu warga di sekitar itu, “lihat pa di Deket rumah anak saya” jelas Abas sambil menunjukan letak kediaman anaknya.

Hal senada di ungkapkan Juanda (45), mengungkapkan pada sorotdesa.com, bahwa ia dan keluarganya sangat terganggu akan polusi udara dari pipa Sanimas itu dan khawatir berdampak pada gangguan kesehatan. Tabung Ipal (septitank) yang berjarak satu meter dari rumahnya, dan pipa pembuangan akhir yang berjarak kurang lebih delapan meter. Apalagi kalau sedang tidak ada hujan turun dan angin agak besar, bau tidak sedap tersebut bisa sampai ke rumah warga lainnya walaupun jaraknya diatas dua puluh meter dari sumber polusi tersebut. Dikarenakan pipa pembuangan terahir itu di alirkan ke got atau selokan yang hanya beberapa meter dari tempat tinggalnya. Bahwa hal tersebut sudah diadukan pada pihak terkait atau pelaksana program tersebut. Akan tetapi sampai saat ini belum ada perbaikan. Ujarnya di Amini sang istri.

Sementara itu di tempat dan waktu terpisah, Dayat selaku ketua KSM atau pelaksana program tersebut. Mengatakan bahwa kegiatan tersebut sudah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ada. Adapun mengenai timbulnya bau tidak sedap tersebut dirinya tidak mengetahui dengan jelas penyebabnya. ” Saya sudah melaksanakan sesuai anjuran konsultan” dan itu semua sudah di lakukan. Untuk upah kerja dirinya mengakui ada yang di bawah seratus ribu dikarenakan itu swadaya, “Saya lupa berapa-berapanya, untuk swadaya ada yang di bawah seratus ribu” ujarnya tanpa menjelaskan berapa pagu atau nilai kegiatan dan dari mana sumber anggarannya. (Seps)

Facebook Comments
Bagikan...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter